Cara Kreatif Menulis Karya Ilmiah

Penulis:     Sukirman, S.S., M.Pd.

ISBN: 978-602-72177-6-8

Desain Sampul & Tata Letak: Firman, S.Pd., M.Pd.

Ukuran: 18 X 25; Halaman: ix + 288

Cetakan Pertama, Nopember  2015

Salah satu tantangan pendidikan nasional yang dihadapi dari waktu ke waktu adalah  melakukan upaya untuk meningkatkan pendidikan baik dari segi aspek kualitas maupun segi aspek kuantitas. Pembenahan terhadap berbagai sistem peningkatan dan pengembangan pendidikan telah dilaksanakan. Salah satu bentuk usaha yang dilakukan di antaranya adalah menyiapkan kurikulum dan instrumen pendidikan, seperti sarana dan prasarana untuk menunjang kompetensi mahasiswa belajar di perguruan tinggi. Aspek yang menentukan keberhasilan pendidikan sangat tergantung kepada pelaku pendidikan dan unsur yang mendukung, yaitu kompetensi tenaga pengajar (guru dan dosen), kompetensi mahasiswa (pembelajar), lingkungan belajar, dan sarana & prasarana pendidikan yang memadai. Oleh karena itu, harapan untuk meningkatan dan menumbuhkan  kualitas hasil pendidikan dapat terwujud apabila unsur yang terlibat dalam pelaksanaan pendidikan memiliki kesadaran dan tanggung jawab terhadap kewajibannya. Di samping itu, unsur pendukung perlu diintesipkan sebagai pelengkap kebutuhan dalam proses pelaksanaan pendidikan dan pengajaran.

Arah dan perhatian pemerintah dalam meningkatkan bidang pendidikan dan pengajaran cukup signifikan ditandai dengan lahirnya Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen. Kemudian, dilanjutkan dengan Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 yang mengatur tentang Standar Pendidikan Nasional. Dijelaskan bahwa standar nasional pendidikan yang segera dientaskan minimal delapan unsur di antaranya adalah (a) standar isi, (b) standar proses, (c) standar kompetensi lulusan, (e) standar sarana dan prasarana, (f) standar pengelolaan, (g) standar pembiayaan, dan (h) standar penilaian pendidikan. Sampai saat ini ketujuh satandar tersebut belum terealisasi, kecuali point (d) standar tenaga kependidikan yang diselesaikan terlebih dahulu yang diatur oleh PP 37 Tahun 2009. Kemudian, ditindaklanjuti dengan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 47 Tahun 2009 tentang Sertifikasi Guru dan Dosen.

Mengacu kepada beberapa aturan di atas maka sangat jelas tentang posisi, fungsi, dan tugas pokok dosen dan guru, yaitu menempatkan dosen dan guru sebagai komponen terpenting dalam pendidikan dan pengajaran baik di jenjang pendidikan dasar dan menengah maupun pada jenjang pendidikan tinggi. Dosen, guru, dan mahasiswa (peserta didik) memiliki daya ungkit terpenting dalam pendidikan. Proses pendidikan dan pembelajaran tidak mungkin terlaksana tanpa dosen, guru atau mahasiswa (peserta didik). Pembelajaran dalam pendidikan dianggap sebagai jalan yang tepat membantu kaum muda untuk dapat menjadi insan yang sempurna, yang memiliki ciri cerdas,  dan kompetitif. Selain itu, juga diharapkan memunyai kemampuan komprehensip sehingga berdaya saing tinggi.

Peningkatan hasil pendidikan sangat terkait dengan perilaku budaya yang dimiliki oleh pelaku pendidikan (dosen, guru, siswa, dan mahasiswa). Hasil pengamatan saat ini menunjukkan bahwa masyarakat kita baik yang berkecimpung di bidang akademik maupun di bidang lainnya rata-rata masih berada pada kategori budaya dengar-ucap belum mengarah pada kategori budaya baca-tulis sekaligus budaya pandang-dengar, seperti yang dialami negara-negara maju. Berkenaan dengan pernyataan tersebut maka tulisan ini bertujuan mendeskripsikan sekaligus memberikan informasi tentang cara merangkai  dan mengembangankan model penulisan karya ilmiah (menulis akademik) sekaligus mengetahui aspek-aspek yang berhubungan secara signifikan tentang kemampuan menulis karya ilmiah (tulisan akademik).

Menulis adalah kegiatan yang cukup mendasar bagi keberlangsungan kehidupan manusia karena Allah telah mengajarkan manusia untuk membaca dan menulis. Perintah tersebut secara eksplisit dapat disimak dalam Q.S. 96:1-5 (Qur’an Surah al-Alaq). Kemudian, dilanjutkan lagi pada Q.S. 68: 1-3 (Qur’an Surah al-Qalam), juga secara eksplisit memerintahkan untuk membaca dan menulis. Jadi, membaca dan menulis merupakan dua sisi mata uang yang satu sama lainnya saling menunjang peran dan fungsi. Membaca dan menulis adalah pekerjaan besar bagi orang-orang berpradaban. Mencermati kedua surat dalam al-Quran maka membaca dan menulis adalah sebuah keharusan bagi manusia karena memiliki kekuatan yang sangat penting dalam perilaku kehidupan. Selain itu, Abdullah bin ‘Amru seorang ulama salaf mengungkapkan qaiyyidu al-ilma bi al-kitabah, yaitu ikatlah ilmu dengan menulisnya (Kuncoro, 2009: 2-3). Oleh karena itu, menulis adalah sebuah keharusan bagi manusia yang ingin berperadaban maju. Di samping itu, menulis adalah mewariskan ilmu pengetahuan kepada generasi mendatang.

Menulis adalah proses menuangkan pikiran dan menyampaikannya kepada khalayak. Ide yang sudah tertuang dalam tulisan, kelak memiliki kekuatan untuk menembus ruang dan waktu sehingga keberadaan ide atau gagasan tersebut akan abadi. Dengan kata lain, proses menulis adalah satu upaya untuk mewariskan dan meneruskan ide atau gagasan kepada generasi selanjutnya agar ide tersebut terpelihara dan tetap “hidup” (Kartono, 2009: 17).

Seseorang hanya dapat menciptakan sebuah tulisan yang baik jika dia rajin membaca karena dalam interaksi antara seorang pembaca dan bacaan terdapat model tulisan yang dijamin keterbacaannya (Zainurrahman, 2011: 2-3). Berkenaan dengan hal tersebut diungkapkan  Harefa (2002: 13) bahwa mengarang (menulis) adalah salah satu cara belajar. Banyak hal yang dipelajari menjadi lebih kuat melekat dalam ingatan karena diolah menjadi tulisan. Hal yang sama diungkapkan oleh Indriati (2003: 35) bahwa menulis adalah kegiatan simbolik yang menumbuhkan makna, itu berarti  menulis merupakan kegiatan berpikir di atas kertas. Aspek pengembangan makna dalam kegiatan berpikir dapat merespon seseorang  memunyai minat menulis biasanya ada dorongan dari dalam dirinya untuk menulis. Dorongan ini secara umum disebut sebagai motivasi diri dan motivasi inilah harus dibangkitkan (Wardhana, 2007: 14).

Mengarang (menulis akademik) berarti menggunakan bahasa untuk menyatakan isi hati dan buah pikiran secara menarik yang mengena pada pembaca. Karangan yang bermutu selalu berpangkal tolak pada pemikiran yang tepat dan jelas (Caraka, 2002: 2). Oleh karena itu, antara berbahasa dan berpikir memunyai hubungan yang sangat erat. Bahasa adalah sarana untuk menyatakan pikiran yang menjadi alat pengembangan dalam menulis. Dengan demikian, bahasa sangat penting fungsinya dalam karangan. Bahasa adalah penemuan manusia yang paling unggul dan alat yang amat penting untuk membangun kebudayaan yang bersifat kemanusiaan. Manfaat yang paling besar dari bahasa adalah dapat dipergunakan untuk mengutarakan gagasan dan maksud kita. Cara mengembangkan kecakapan mengarang untuk mengemukakan maksud tertentu secara jelas dengan menggunakan rencana yang tepat (Caraka, 2002: 1).

Menulis adalah kegiatan penyampaian pesan dengan menggunakan bahasa tulis sebagai alat atau medianya. Pesan adalah isi atau muatan yang terkandung dalam suatu tulisan. Tulisan merupakan sebuah simbol atau lambang bahasa yang dapat dilihat dan disepakati pemakaiannya. Menulis bukanlah sesuatu yang asing bagi kita. Artikel, esai, laporan, resensi, karya sastra, buku, komik, dan cerita adalah contoh bentuk dan produk bahasa tulis yang akrab dengan kehidupan. Tulisan itu menyajikan secara runtut dan menarik, ide, gagasan, dan perasaan penulisnya.

Ada pertanyaan yang sering muncul. Mengapa harus menulis? Pertanyaan tersebut cukup sederhana, tetapi sangat mengundang perhatian untuk merenungkannya. Hal tersebut dijelaskan Wijayanti dkk. (2013: 193) bahwa tradisi keilmuan menuntut para calon ilmuawan (khususnya mahasiswa) bukan hanya sekedar penerima ilmu, melainkan juga sekaligus pemberi (penyumbang) ilmu. Tugas mereka tidak hanya membaca, tetapi juga harus dapat menulis karya ilmiah. Dengan demikian, mahasiswa sebagai calon ilmuwan perlu menguasai tata cara menyusun karya ilmiah. Selain itu, St. Kartono (2009: 19-20) menyebutkan beberapa unsur penting yang diperoleh jika seseorang menulis di antaranya adalah (1) agar pemikiran dapat dipahami oleh orang lain, (2) adanya perubahan, (3) iklim intelektual selalu berkembang, dan (4) persoalan dapat terdiskusikan secara sejajar.

Sayangnya aktivitas menulis tidak banyak di antara kita yang menyukainya. Berdasarkan catatan hasil survei yang pernah dilakukan menunjukkan bahwa aspek pelajaran bahasa yang paling tidak disukai adalah menulis. Padahal, menulis banyak manfaat yang ditimbulkan di antaranya adalah (1) peningkatan kecerdasan, (2) pengembangan daya inisiatif dan kreativitas, (3) penumbuhan keberanian, dan (4) mendorong kemauan dan kemampun mengumpulkan informasi (Suparno, 2002: 3-4).

Menulis merupakan salah satu dari empat keterampilan berbahasa yang mendasar (berbicara, mendengar, menulis, dan membaca). Dewasa ini keterampilan berpikir kritis (critical thinking) dan literasi (literacy skill) sudah menjadi keterampilan bahasa lanjutan (advanced linguistic skill). Di antara keterampilan berbahasa yang lain, menulis merupakan salah satu keterampilan yang sulit dikuasai seseorang, apalagi menulis dalam konteks akademik (academic writing), seperti menulis esai, karya ilmiah, laporan penelitian, dan sebagainya (Zainurrahman, 2011: 2-3).

Kompetensi menulis secara umum boleh dikatakan lebih sulit dikuasai. Hal itu disebabkan kompetensi menulis menghendaki penguasaan berbagai unsur kebahasaan dan unsur di luar bahasa yang akan menjadi isi karangan. Baik unsur bahasa maupun unsur isi pesan harus terjalin sedemikian rupa sehingga menghasilkan karangan yang runtut, padu, dan berisi (Nurgiyantoro, 2010: 422).

Ada anggapan sebagian mahasiswa atau calon sarjana bahwa menyusun karangan ilmiah dengan bahasa yang benar itu rumit dan menyusahkan. Sebagian di antara mereka mengeluh setelah diberi tugas menyusun makalah atau skripsi oleh dosen pembimbing atau lembaga pendidikan tingginya. Mereka seakan-akan “menyerah” sebelum “bertempur”. Anggapan dan perasaan seperti itu terlalu berlebihan karena sebetulnya, menyusun karangan ilmiah tidak jauh berbeda dengan menyusun karangan yang lain (Arifin, 2003: 1). Hal ini dijelaskan Tang dkk. yang mengatakan bahwa menulis akademik bukanlah pekerjaan yang sulit, melainkan mudah. Ketika memulai menulis secara ilmiah, setiap penulis tidak perlu menunggu menjadi seorang penulis yang terampil. Belajar teori menulis itu mudah, tetapi untuk mempraktikannya tidak cukup sekali atau dua kali saja. Frekuensi dan kuntinuitas latihan menulis akan menjadikan seseorang terampil dalam bidang tulis menulis (Tang dkk., 2008: 87-88). Selanjutnya, Chatib (2013: 71) menjelaskan bahwa sumber kecerdasan seseorang adalah kebiasaannya untuk membuat produk baru yang memunyai nilai budaya (kreativitas) dan kebiasaannya menyelesaikan masalah secara mandiri (problem solving).  Jadi, dengan demikian menulis  dapat menjadi mudah jika sering dilakukan. Oleh karena itu,  pola belajar yang kreatif dan produktif dalam menulis di kalangan mahasiswa menjadi salah satu ukuran kecerdasan, kualitas, atau hasil kemampuan menulis di kalangan mahasiswa.

Berdasarkan beberapa uraian di atas dapat dipahami bahwa menulis  akademik (karya tulis ilmiah) masih kurang diminati oleh kalangan akademisi khususnya dan masyarakat luas pada umumnya. Padahal orang yang berkecimpung di perguruan tinggi  sangat terkait langsung dengan kegiatan menulis. Bahkan, menulis adalah kewajiban bagi kalangan akademisi. Kurangnya daya tarik para akademisi melakukan kegiatan menulis menjadi fenomena yang sangat menarik perhatian untuk dikaji. Sehubungan dengan hal itu, tulisan berupaya menyajikan beberapa teknik-teknik atau kiat-kiat khusus yang berkenaan dengan menulis agar para pembaca dapat termotivasi dan berminat untuk menulis khususnya di kalangan pelajar dan mahasiswa.

Menulis belum menjadi budaya yang melekat dalam kehidupan masyarakat kita, khususnya menulis dalam bentuk karya tulis ilmah. Hal ini dapat dilihat dari rendahnya publikasi internasional masyarakat kita dan banyaknya akademisi yang kariernya terhambat disebabkan minimnya publikasi dan penelitian. Lesuhnya budaya menulis tidak hanya disebabkan oleh rendahnya minat baca dan tidak memadainya apresiasi terhadap penulis, tetapi juga disebabkan minimnya keterampilan menulis. Hal ini diungkapkan oleh Taufik Ismail bahwa masyarakat kita ada bangsa rabun membaca dan lumpuh menulis.

Siapa pun yang dapat menguasai teknik menulis karya tulis ilmiah, tentu ia akan mudah menuliskan hasil pemikiran dan penelitian ilmiah yang telah dilakukannya. Mahasiswa, dosen, dan para guru pun akan mudah untuk menuliskan segala pengetahuan ilmiah mereka dalam bentuk karya tulis mulai dari skripsi, tesis, disertasi, hingga jurnal.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: