Bahasa Indonesia Untuk Perguruan Tinggi: Terampil Berbahasa Melalui Pembelajaran Berbasis Teks

Bahasa Indonesia Untuk Perguruan Tinggi: Terampil Berbahasa Melalui Pembelajaran Berbasis Teks

Keterampilan berbahasa merupakan sebuah keterampilan yang wajib dimiliki peserta didik. Melalui keterampilan berbahasa seseorang bisa mahir melakukan komunikasi yang positif, dan produktif. Keterampilan berbahasa telah diajarkan sejak seseorang duduk di bangku sekolah dasar hingga perguruan tinggi sehingga seyogyanya pebelajar sudah terampil berbahasa. Namun faktanya di perguruan tinggi, masih saja ditemukan mahasiswa yang tidak mampu menulis sesuai dengan ejaan yang tepat, dan tidak berani dalam menyampaikan pendapat. Hal ini tentu dipengaruhi oleh kurangnya pemahaman mahasiswa mengenai menulis dan berbicara. Beberapa faktor penyebabnya diindikasi dari ketidakmampuan mahasiswa menyimak materi dan kurangnya pengetahuan mahasiswa karena kurang membaca.

Keterampilan berbahasa terdiri dari keterampilan menyimak, membaca, berbicara dan menulis. Keempat keterampilan tersebut, memiliki keutamaan, dan kaitan satu sama lain yang harus dikuasai oleh seorang pebelajar. Keempat keterampilan tidak serta merta dikuasai tetapi perlu latihan yang intensif. Hal ini sesuai dengan pendapat Tarigan (1993:1) bahwa keterampilan hanya dapat diperoleh dan dikuasai dengan jalan praktik dan banyak latihan. Melatih keterampilan berbahasa berarti pula melatih keterampilan berpikir. Buku ini didesain untuk membuat mahasiswa terampil berbahasa melalui pembelajaran berbasis teks. Pada tahap awal mahasiswa diharapkan mampu menumbuhkan kembali kesadaran berbahasa Indonesia dengan memberikan materi Pengantar bahasa Indonesia. Lalu membangun konsep mahasiswa tentang dasar-dasar bahasa Indonesia. Dasar-dasar ini penting, sebagai pondasi untuk menulis teks akademik. Setelah membahas tentang dasar-dasar bahasa Indonesia, mahasiswa diharapkan mampu membuat teks akademik.

 

Manajemen Pendidikan Berbasis Madrasah

Manajemen Pendidikan Berbasis Madrasah

Penulis: Makmur, S.Pd.I., M.Pd.I. & Suparman, S.Pd.I., M.Pd.I.

Editor Isi: Hisbullah, S.Pd., M.Pd.

Editor Bahasa: Mirnawati, S.Pd., M.Pd.

ISBN:  978-602-5802-08-9

 

Cetakan Pertama, April  2018

Ukuran: 14 X 21 cm; Halaman: viii + 58

Perancang Sampul: Chandra Adi Wiguna

Tata Letak: Andi Hafizah Qurrota  Ayun

 

Pengantar

Pendidikan memegang peranan yang sa­ngat penting dalam proses peningkatan kuali­tas sumber daya manusia. Peningkatan kualitas pendidikan merupakan suatu proses yang terintegrasi dengan proses peningkatan kualitas sumber daya manusia itu sendiri. Menyadari pentingnya proses pening­katan kualitas sumber daya manusia, maka peme­rintah bersama kalangan swasta telah dan terus berupaya mewujudkan amanat tersebut melalui berbagai usaha pembangunan pendidikan yang lebih berkualitas, antara lain melalui perbaikan kuri­kulum dan sistem evaluasi, sarana pendidikan, pengem­bangan materi ajar, serta pelatihan bagi tenaga pendidik[1] dan tenaga kependidikan[2] lain­nya.

Output pendidikan di Indonesia masih tergolong rendah kualitasnya. Hal ini ditandai oleh sering terjadinya tawuran antar pelajar di berbagai kota ditambah lagi dengan sejumlah perilaku mereka yang menjurus kriminal, penyalahgunaan narkoba yang terus meningkat, dan pergaulan bebas di kalangan remaja. Ini merupakan bukti bahwa pendidikan di negeri ini tidak berhasil membentuk peserta didik yang memiliki kepribadian Islami. Apabila dunia pendidikan tidak segera diatasi secara cepat dan tepat, maka tidak mustahil sektor ini akan ditinggalkan oleh zaman. Dengan begitu, diperlukan adanya kesadaran untuk menampilkan lembaga pendidikan yang berkualitas dalam usaha memecahkan dan merespons berbagai tantangan baru yang timbul di setiap zaman.[3]

Demikian juga dalam komparasi dunia internasional, mutu pendidikan Indonesia berada pada posisi yang rendah. Hal ini menuntut segenap lembaga pendidikan yang ada di negeri ini untuk bangkit dan berjuang dalam usaha memperbaiki pendidikan agar menjadi lembaga yang berkualitas dan dapat dibanggakan oleh bangsa Indonesia.[4]

Kedudukan pendidikan di Indonesia merupakan hal yang penting dan mendasar, karena dengan melalui pendidikan maka usaha-usaha memperjuangkan kehidupan rakyat yang adil dan makmur sebagai cita-cita seluruh bangsa dapat diwujudkan secara memadai. Secara eksplisit hal tersebut tertuang dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar (UUD) 1945, yang menegaskan bahwa salah satu tujuan kemerdekaan Negara Republik Indonesia adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. Lebih tegas lagi, pentingnya pendidikan termaktub dalam pasal 31 ayat 1 dan 2 UUD 1945 yang berbunyi, “Tiap-tiap warga negara berhak mendapat pengajaran, dan Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pengajaran nasional, yang diatur dengan undang-undang”.

Merujuk pada Undang-Undang No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, penyelenggaraan pendidikan adalah salah satu urusan wajib yang menjadi wewenang pemerintah kabupaten/kota. Di sisi lain, Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional mene­gaskan bahwa pendidikan diselenggarakan secara demokratis dan berkeadilan serta tidak diskriminatif dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia, nilai keagamaan, nilai kultural, dan kemajemukan bangsa.[5]

Dua landasan normatif tersebut sebenarnya sudah cukup menjadi rambu-rambu bagi pelaksanaan desentralisasi pen­didikan. Akan tetapi, perlu juga adanya standarisasi dan pengen­dalian mutu secara nasional sebagai upaya membentuk kesatuan referensi dalam mencapai pendidikan yang berku­alitas. Standar pendidikan ini telah diperkuat dengan adanya PP No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan.[6]

Reformasi  bidang  politik  di  Indonesia  pada  penghujung  abad  ke  20  M  telah membawa  perubahan  besar  pada  kebija­kan  pengembangan  sektor  pendidikan,  yang secara  umum  bertumpu  pada  dua  paradigma  baru  yang  otonomisasi  dan  demokratisasi. Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang otonomi daerah telah meletakkan sektor pendidikan sebagai salah satu yang diotomisasikan bersama sektor-sektor pem­bangunan yang berbasis kedaerahan lainnya seperti kehutanan, pertanian, koperasi dan pariwisata. Otonomisasi  sektor  pendi­dikan  dilimpahkan  pada  madrasah,  agar  kepala madrasah dan guru memiliki tanggung jawab besar dalam peningkatan kualitas proses pembelajaran untuk meningkatkan kualitas hasil belajar. Baik dan buruknya kualitas hasil belajar siswa menjadi  tanggung  jawab  guru  dan  kepala madrasah,  karena  peme­rintah  daerah  hanya memfasilitasi berbagai aktivitas pendi­dikan, baik sarana-prasarana, ketenagaan, maupun berbagai program pembelajaran yang direncanakan sekolah.[7]

Melalui Manajemen Berbasis Madrasah[8] diyakini bahwa prestasi belajar siswa lebih mungkin meningkat jika manajemen pendidikan dipusatkan di sekolah ketimbang pada tingkat daerah. Kepala madrasah[9] cenderung lebih peka dan sangat mengetahui kebutuhan murid dan madrasahnya ketimbang para birokrat di tingkat pusat atau daerah.  MBM memberikan kesempatan pengendalian lebih besar bagi kepala madrasah, guru, murid, dan orang tua atas proses pendidikan di madrasah mereka.

Sedangkan  salah satu usaha pemerintah untuk mening­katkan mutu pendidikan adalah dengan diadakannya otonomi pendidikan, otonomi diberikan agar sekolah dapat leluasa mengelola sumber daya dengan mengalokasikannya sesuai dengan prioritas kebutuhan serta agar madrasah lebih tanggap terhadap kebutuhan lingkungan setempat.[10] Otonomi juga diartikan sebagai kewenangan atau kemandirian, yaitu keman­dirian dalam mengatur dan mengurus dirinya sendiri dan tidak bergantung dengan orang lain. Jadi otonomi sekolah adalah kewenangan sekolah untuk mengatur dan mengurus kepen­tingan warga sekolah menurut prakarsa sendiri, berdasarkan aspirasi warga sekolah sesuai dengan peraturan perundang-undangan pendidikan nasioanl yang berlaku.[11]

Dalam pemberian otonomi pendidikan pada suatu daerah ini dilakukan sebagai sarana peningkatan efisiensi pemerataan pendidikan, peran serta masyarakat, dan akuntabilitas. Secara esensial, landasan filosofis otonomi daerah adalah pemberdayaan dan kemandirian daerah menuju kematangan dan kualitas masyarakat yang dicita-citakan.

Di sisi lain, otonomi pendidikan ini menuntut pendekatan manajemen yang lebih kondusif di madrasah atau sekolah agar mengakomodasi kemajuan dan sistem yang ada di madrasah. Dalam kerangka inilah, Manajemen Berbasis Madrasah (MBM) tampil sebagai alternatif paradigma baru manajemen pendi­dikan yang ditawarkan.

[1]Tenaga pendidik adalah tenaga kependidikan yang berkualifikasi sebagai guru, dosen, konselor, pamong belajar, widyaiswara, tutor, instruktur, fasilitator, dan sebatas lain yang sesuai dengan kekhususannya, serta berpartisipasi dalam menyelenggarakan pendidikan.

[2]Tenaga kependidikan meliputi: pengelola satuan pendidikan, penilik, pamong belajar, pengawas, peneliti, pengembang, pustakawan, laboran, dan teknisi sumber belajar.

[3]Abuddin Nata, Manajemen Pendidikan: Mengatasi Kelemahan Pendidikan Islam di Indonesia, (Bogor : Kencana, 2003), h.159.

[4]Hari Suderadjat, Sebuah Pengantar: Pendidikan Berbasis Luas (BBE) yang Berorientasi pada Kecakapan Hidup (Life Skill) (Cet. ke-3; Bandung: CV. Cipta Cekas Grafika, 2003), h. i.

[5]Umiarso dan Imam Gojali, Manajemen Mutu Sekolah di Era Otonomi Pendidikan, (Cet. II; Jogjakarta : Ircisod, 2011), h. 68.

[6]Ibid, h. 68.

[7]Lihat Dede Rosyada, Paradigma Pendidikan Demokatis  (Jakarta: Kencana 2004), h. 37.

[8]Manajemen Berbasis Madrasah (MBM) sama maknanya dengan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS). Oleh karena itu, apabila dalam tesis ini terdapat kata MBM maka yang di maksud oleh penulis adalah MBS.

[9]Kata madrasah sama halnya dengan sekolah, maka dalam penulisan tesis ini di difokuskan memakai kata madrasah.

[10]Hasbullah, Otonomi Pendidikan “Kebijakan Otonomi Daerah dan Implikasinya terhadap Penyelanggaraan Pendidikan”, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2006), h. 82.

[11]Ibid., h.76.

Komitmen Organisasi Terhadap Kinerja Pegawai

Komitmen Organisasi Terhadap Kinerja Pegawai

Penulis: Dr. Mahadin Shaleh, M.Si.

Editor Isi: Nurdin Batjo, M.M.

Editor Bahasa: Firman, S.Pd., M.Pd.

ISBN:  978-602-5802-06-5

Cetakan Pertama, April  2018

Ukuran: 15,5 X 23 cm; Halaman: viii + 78

Perancang Sampul: Chandra Adi Wiguna

Tata Letak: Andi Hafizah Qurrota  Ayun

Sejarah terbentuknya sebuah organsisasi sesungguhnya telah seusia dengan peradaban manusia di buka bumi ini. Sejak hidup manusia pertama, telah menyatukan diri dengan orang lain untuk mencapai tujuan hidupnya. Tetapi pada faktanya tidak semua orang menyadari bahwa mereka sebenarnya telah berorganisasi. Pentingnya berorganisasi ini telah diungkapkan oleh sahabat nabi empat belas abad yang lalu bahwa kejahatan yang terorganisasi dapat mengalahkan kebaikan yang tidak terorganisasi. Tetapi kesadaran berorganisasi itu agak lambat perjalanannya dibandingkan kemajuan peradaban manusia. Karena organisasi barulah dirasa sangat penting dalam beberapa dasawarsa terakhir. Ciri utama sebuah organisasi adalah sekelompok orang yang berinteraksi dan bekerjasama yang berpegang pada komitmen atas etika, norma, peraturan serta kebijakan yang telah disepakati untuk ditaati bersama demi kelangsungan organisasi.

Terdapat dua hal utama yang  dikaji dalam buku ini, yaitu komitmen organisasi dan kinerja pegawai. Komitmen organisasi mengacu pada tanggung jawab pegawai kepada organisasi. Sedangkan kinerja pegawai mengacu pada prestasi kerja seorang pegawai dalam periode tertentu dibandingkan standar, target, sasaran, atau kriteria yang harus dicapai.

Cara Kreatif Menulis Karya Ilmiah

Penulis:     Sukirman, S.S., M.Pd.

ISBN: 978-602-72177-6-8

Desain Sampul & Tata Letak: Firman, S.Pd., M.Pd.

Ukuran: 18 X 25; Halaman: ix + 288

Cetakan Pertama, Nopember  2015

Salah satu tantangan pendidikan nasional yang dihadapi dari waktu ke waktu adalah  melakukan upaya untuk meningkatkan pendidikan baik dari segi aspek kualitas maupun segi aspek kuantitas. Pembenahan terhadap berbagai sistem peningkatan dan pengembangan pendidikan telah dilaksanakan. Salah satu bentuk usaha yang dilakukan di antaranya adalah menyiapkan kurikulum dan instrumen pendidikan, seperti sarana dan prasarana untuk menunjang kompetensi mahasiswa belajar di perguruan tinggi. Aspek yang menentukan keberhasilan pendidikan sangat tergantung kepada pelaku pendidikan dan unsur yang mendukung, yaitu kompetensi tenaga pengajar (guru dan dosen), kompetensi mahasiswa (pembelajar), lingkungan belajar, dan sarana & prasarana pendidikan yang memadai. Oleh karena itu, harapan untuk meningkatan dan menumbuhkan  kualitas hasil pendidikan dapat terwujud apabila unsur yang terlibat dalam pelaksanaan pendidikan memiliki kesadaran dan tanggung jawab terhadap kewajibannya. Di samping itu, unsur pendukung perlu diintesipkan sebagai pelengkap kebutuhan dalam proses pelaksanaan pendidikan dan pengajaran.

Arah dan perhatian pemerintah dalam meningkatkan bidang pendidikan dan pengajaran cukup signifikan ditandai dengan lahirnya Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen. Kemudian, dilanjutkan dengan Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 yang mengatur tentang Standar Pendidikan Nasional. Dijelaskan bahwa standar nasional pendidikan yang segera dientaskan minimal delapan unsur di antaranya adalah (a) standar isi, (b) standar proses, (c) standar kompetensi lulusan, (e) standar sarana dan prasarana, (f) standar pengelolaan, (g) standar pembiayaan, dan (h) standar penilaian pendidikan. Sampai saat ini ketujuh satandar tersebut belum terealisasi, kecuali point (d) standar tenaga kependidikan yang diselesaikan terlebih dahulu yang diatur oleh PP 37 Tahun 2009. Kemudian, ditindaklanjuti dengan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 47 Tahun 2009 tentang Sertifikasi Guru dan Dosen.

Mengacu kepada beberapa aturan di atas maka sangat jelas tentang posisi, fungsi, dan tugas pokok dosen dan guru, yaitu menempatkan dosen dan guru sebagai komponen terpenting dalam pendidikan dan pengajaran baik di jenjang pendidikan dasar dan menengah maupun pada jenjang pendidikan tinggi. Dosen, guru, dan mahasiswa (peserta didik) memiliki daya ungkit terpenting dalam pendidikan. Proses pendidikan dan pembelajaran tidak mungkin terlaksana tanpa dosen, guru atau mahasiswa (peserta didik). Pembelajaran dalam pendidikan dianggap sebagai jalan yang tepat membantu kaum muda untuk dapat menjadi insan yang sempurna, yang memiliki ciri cerdas,  dan kompetitif. Selain itu, juga diharapkan memunyai kemampuan komprehensip sehingga berdaya saing tinggi.

Peningkatan hasil pendidikan sangat terkait dengan perilaku budaya yang dimiliki oleh pelaku pendidikan (dosen, guru, siswa, dan mahasiswa). Hasil pengamatan saat ini menunjukkan bahwa masyarakat kita baik yang berkecimpung di bidang akademik maupun di bidang lainnya rata-rata masih berada pada kategori budaya dengar-ucap belum mengarah pada kategori budaya baca-tulis sekaligus budaya pandang-dengar, seperti yang dialami negara-negara maju. Berkenaan dengan pernyataan tersebut maka tulisan ini bertujuan mendeskripsikan sekaligus memberikan informasi tentang cara merangkai  dan mengembangankan model penulisan karya ilmiah (menulis akademik) sekaligus mengetahui aspek-aspek yang berhubungan secara signifikan tentang kemampuan menulis karya ilmiah (tulisan akademik).

Menulis adalah kegiatan yang cukup mendasar bagi keberlangsungan kehidupan manusia karena Allah telah mengajarkan manusia untuk membaca dan menulis. Perintah tersebut secara eksplisit dapat disimak dalam Q.S. 96:1-5 (Qur’an Surah al-Alaq). Kemudian, dilanjutkan lagi pada Q.S. 68: 1-3 (Qur’an Surah al-Qalam), juga secara eksplisit memerintahkan untuk membaca dan menulis. Jadi, membaca dan menulis merupakan dua sisi mata uang yang satu sama lainnya saling menunjang peran dan fungsi. Membaca dan menulis adalah pekerjaan besar bagi orang-orang berpradaban. Mencermati kedua surat dalam al-Quran maka membaca dan menulis adalah sebuah keharusan bagi manusia karena memiliki kekuatan yang sangat penting dalam perilaku kehidupan. Selain itu, Abdullah bin ‘Amru seorang ulama salaf mengungkapkan qaiyyidu al-ilma bi al-kitabah, yaitu ikatlah ilmu dengan menulisnya (Kuncoro, 2009: 2-3). Oleh karena itu, menulis adalah sebuah keharusan bagi manusia yang ingin berperadaban maju. Di samping itu, menulis adalah mewariskan ilmu pengetahuan kepada generasi mendatang.

Menulis adalah proses menuangkan pikiran dan menyampaikannya kepada khalayak. Ide yang sudah tertuang dalam tulisan, kelak memiliki kekuatan untuk menembus ruang dan waktu sehingga keberadaan ide atau gagasan tersebut akan abadi. Dengan kata lain, proses menulis adalah satu upaya untuk mewariskan dan meneruskan ide atau gagasan kepada generasi selanjutnya agar ide tersebut terpelihara dan tetap “hidup” (Kartono, 2009: 17).

Seseorang hanya dapat menciptakan sebuah tulisan yang baik jika dia rajin membaca karena dalam interaksi antara seorang pembaca dan bacaan terdapat model tulisan yang dijamin keterbacaannya (Zainurrahman, 2011: 2-3). Berkenaan dengan hal tersebut diungkapkan  Harefa (2002: 13) bahwa mengarang (menulis) adalah salah satu cara belajar. Banyak hal yang dipelajari menjadi lebih kuat melekat dalam ingatan karena diolah menjadi tulisan. Hal yang sama diungkapkan oleh Indriati (2003: 35) bahwa menulis adalah kegiatan simbolik yang menumbuhkan makna, itu berarti  menulis merupakan kegiatan berpikir di atas kertas. Aspek pengembangan makna dalam kegiatan berpikir dapat merespon seseorang  memunyai minat menulis biasanya ada dorongan dari dalam dirinya untuk menulis. Dorongan ini secara umum disebut sebagai motivasi diri dan motivasi inilah harus dibangkitkan (Wardhana, 2007: 14).

Mengarang (menulis akademik) berarti menggunakan bahasa untuk menyatakan isi hati dan buah pikiran secara menarik yang mengena pada pembaca. Karangan yang bermutu selalu berpangkal tolak pada pemikiran yang tepat dan jelas (Caraka, 2002: 2). Oleh karena itu, antara berbahasa dan berpikir memunyai hubungan yang sangat erat. Bahasa adalah sarana untuk menyatakan pikiran yang menjadi alat pengembangan dalam menulis. Dengan demikian, bahasa sangat penting fungsinya dalam karangan. Bahasa adalah penemuan manusia yang paling unggul dan alat yang amat penting untuk membangun kebudayaan yang bersifat kemanusiaan. Manfaat yang paling besar dari bahasa adalah dapat dipergunakan untuk mengutarakan gagasan dan maksud kita. Cara mengembangkan kecakapan mengarang untuk mengemukakan maksud tertentu secara jelas dengan menggunakan rencana yang tepat (Caraka, 2002: 1).

Menulis adalah kegiatan penyampaian pesan dengan menggunakan bahasa tulis sebagai alat atau medianya. Pesan adalah isi atau muatan yang terkandung dalam suatu tulisan. Tulisan merupakan sebuah simbol atau lambang bahasa yang dapat dilihat dan disepakati pemakaiannya. Menulis bukanlah sesuatu yang asing bagi kita. Artikel, esai, laporan, resensi, karya sastra, buku, komik, dan cerita adalah contoh bentuk dan produk bahasa tulis yang akrab dengan kehidupan. Tulisan itu menyajikan secara runtut dan menarik, ide, gagasan, dan perasaan penulisnya.

Ada pertanyaan yang sering muncul. Mengapa harus menulis? Pertanyaan tersebut cukup sederhana, tetapi sangat mengundang perhatian untuk merenungkannya. Hal tersebut dijelaskan Wijayanti dkk. (2013: 193) bahwa tradisi keilmuan menuntut para calon ilmuawan (khususnya mahasiswa) bukan hanya sekedar penerima ilmu, melainkan juga sekaligus pemberi (penyumbang) ilmu. Tugas mereka tidak hanya membaca, tetapi juga harus dapat menulis karya ilmiah. Dengan demikian, mahasiswa sebagai calon ilmuwan perlu menguasai tata cara menyusun karya ilmiah. Selain itu, St. Kartono (2009: 19-20) menyebutkan beberapa unsur penting yang diperoleh jika seseorang menulis di antaranya adalah (1) agar pemikiran dapat dipahami oleh orang lain, (2) adanya perubahan, (3) iklim intelektual selalu berkembang, dan (4) persoalan dapat terdiskusikan secara sejajar.

Sayangnya aktivitas menulis tidak banyak di antara kita yang menyukainya. Berdasarkan catatan hasil survei yang pernah dilakukan menunjukkan bahwa aspek pelajaran bahasa yang paling tidak disukai adalah menulis. Padahal, menulis banyak manfaat yang ditimbulkan di antaranya adalah (1) peningkatan kecerdasan, (2) pengembangan daya inisiatif dan kreativitas, (3) penumbuhan keberanian, dan (4) mendorong kemauan dan kemampun mengumpulkan informasi (Suparno, 2002: 3-4).

Menulis merupakan salah satu dari empat keterampilan berbahasa yang mendasar (berbicara, mendengar, menulis, dan membaca). Dewasa ini keterampilan berpikir kritis (critical thinking) dan literasi (literacy skill) sudah menjadi keterampilan bahasa lanjutan (advanced linguistic skill). Di antara keterampilan berbahasa yang lain, menulis merupakan salah satu keterampilan yang sulit dikuasai seseorang, apalagi menulis dalam konteks akademik (academic writing), seperti menulis esai, karya ilmiah, laporan penelitian, dan sebagainya (Zainurrahman, 2011: 2-3).

Kompetensi menulis secara umum boleh dikatakan lebih sulit dikuasai. Hal itu disebabkan kompetensi menulis menghendaki penguasaan berbagai unsur kebahasaan dan unsur di luar bahasa yang akan menjadi isi karangan. Baik unsur bahasa maupun unsur isi pesan harus terjalin sedemikian rupa sehingga menghasilkan karangan yang runtut, padu, dan berisi (Nurgiyantoro, 2010: 422).

Ada anggapan sebagian mahasiswa atau calon sarjana bahwa menyusun karangan ilmiah dengan bahasa yang benar itu rumit dan menyusahkan. Sebagian di antara mereka mengeluh setelah diberi tugas menyusun makalah atau skripsi oleh dosen pembimbing atau lembaga pendidikan tingginya. Mereka seakan-akan “menyerah” sebelum “bertempur”. Anggapan dan perasaan seperti itu terlalu berlebihan karena sebetulnya, menyusun karangan ilmiah tidak jauh berbeda dengan menyusun karangan yang lain (Arifin, 2003: 1). Hal ini dijelaskan Tang dkk. yang mengatakan bahwa menulis akademik bukanlah pekerjaan yang sulit, melainkan mudah. Ketika memulai menulis secara ilmiah, setiap penulis tidak perlu menunggu menjadi seorang penulis yang terampil. Belajar teori menulis itu mudah, tetapi untuk mempraktikannya tidak cukup sekali atau dua kali saja. Frekuensi dan kuntinuitas latihan menulis akan menjadikan seseorang terampil dalam bidang tulis menulis (Tang dkk., 2008: 87-88). Selanjutnya, Chatib (2013: 71) menjelaskan bahwa sumber kecerdasan seseorang adalah kebiasaannya untuk membuat produk baru yang memunyai nilai budaya (kreativitas) dan kebiasaannya menyelesaikan masalah secara mandiri (problem solving).  Jadi, dengan demikian menulis  dapat menjadi mudah jika sering dilakukan. Oleh karena itu,  pola belajar yang kreatif dan produktif dalam menulis di kalangan mahasiswa menjadi salah satu ukuran kecerdasan, kualitas, atau hasil kemampuan menulis di kalangan mahasiswa.

Berdasarkan beberapa uraian di atas dapat dipahami bahwa menulis  akademik (karya tulis ilmiah) masih kurang diminati oleh kalangan akademisi khususnya dan masyarakat luas pada umumnya. Padahal orang yang berkecimpung di perguruan tinggi  sangat terkait langsung dengan kegiatan menulis. Bahkan, menulis adalah kewajiban bagi kalangan akademisi. Kurangnya daya tarik para akademisi melakukan kegiatan menulis menjadi fenomena yang sangat menarik perhatian untuk dikaji. Sehubungan dengan hal itu, tulisan berupaya menyajikan beberapa teknik-teknik atau kiat-kiat khusus yang berkenaan dengan menulis agar para pembaca dapat termotivasi dan berminat untuk menulis khususnya di kalangan pelajar dan mahasiswa.

Menulis belum menjadi budaya yang melekat dalam kehidupan masyarakat kita, khususnya menulis dalam bentuk karya tulis ilmah. Hal ini dapat dilihat dari rendahnya publikasi internasional masyarakat kita dan banyaknya akademisi yang kariernya terhambat disebabkan minimnya publikasi dan penelitian. Lesuhnya budaya menulis tidak hanya disebabkan oleh rendahnya minat baca dan tidak memadainya apresiasi terhadap penulis, tetapi juga disebabkan minimnya keterampilan menulis. Hal ini diungkapkan oleh Taufik Ismail bahwa masyarakat kita ada bangsa rabun membaca dan lumpuh menulis.

Siapa pun yang dapat menguasai teknik menulis karya tulis ilmiah, tentu ia akan mudah menuliskan hasil pemikiran dan penelitian ilmiah yang telah dilakukannya. Mahasiswa, dosen, dan para guru pun akan mudah untuk menuliskan segala pengetahuan ilmiah mereka dalam bentuk karya tulis mulai dari skripsi, tesis, disertasi, hingga jurnal.