Al-Lugah al-’Arabiyyah Tharaiquha wa Wasail Ta’limiha

Al-Lugah al-’Arabiyyah Tharaiquha wa Wasail Ta’limiha

Link Download buku  Al-Lugah al-’Arabiyyah Tharaiquha wa Wasail Ta’limiha

atau Klik di sini

 اللغة العربية طرائقها ووسائل تعليمها

Penulis: Dr. KARTINI, M.Pd.

Editor: Dr.Muhaimin,M.A. &  Mustafa, S.Pd.I., M.Pd.I.

ISBN: 978-602-5802-23-2

Cetakan Pertama, Januari 2019

Ukuran: 15 X 23 cm; Halaman:  x + 242

Perancang Sampul:  Firman Malewa

Tata Letak: Andi Hafizah Qurrota  Ayun

أعوذ  بالله من الشيطن الرجيم

بسم الله الرحمن الرحيم

المقدمة

الحمد الله رب العالمين والصلاة والسلام على أشرف الأنبياء والمرسلين سيدنا محمد وعلى آله وأصحابه أجمعن، أما بعد.

هذا كتاب في طريقة التعليم اللغة العرية ووسيلة تعليمها، ألفت لإستخدام طلبة اللغة العربية في مادة تعليم اللغة العربية.

إن الكتاب يقع في ثلاثة أبواب، وتباين فصلان في كل باب تبعا لمحتوى الباب وطبيعته. فقد جاء الباب الأول ( مكونات اللغة العربية ومهاراتها). الفصل الأول  مستملا على النظام الصوتى، النظام الصرفى، النحو والتراكيب، والنظام الدلالى. والفصل الثانى مشتملا على أربعة مهارات اللغة:المهارة الاستماع، والمهارة الكلام، والمهارة القراءة، والمهارة الكتابة.

والباب الثانى (طرائق التعليم )، يشتمل على أنواع من طرق تعليم اللغىة العربية مثل : طريقة الإلقائية التقليدية (المحاضرة)، و طريقة القواعد والترجمة، طريقة الإستقرائية والهربارت، طريقة المناقشة، طريقة النشاط، طريقة القراءة الطريقة السمعية الشفوية، الطريقة المعرفية وغير ذلك.

وأما الباب الثالث ( وسائل تعليم اللغة العربية) يشتمل على أنواع من وسائل التعليم، الوسائل التعليم والتدريس اللغة كلغة أولى مثل: الوسائل التعليم الحسية، الوسائل اللفظية، السبورة الطباشير، السبورة الوبرية، السبورة الاخبارية، التلفيزيون، الرحلات، الصور النماذج العينات. والوسائل التعليمية وتدريس اللغة العربية كلغة ثانية: الوسائل التعليم لتدريس الاستماع، الوسائل التعليمية لتدريس التعبير الشفهى، الوسائل التعليمية لتدريس القراءة، الوسائل التعليمية لتدريس الكتابة.

ان بلوغ الكمال أمر صعب للغاية لمن يبتغى فضل الله فيما يعمل، فالكمال على الله وحده، جل شأنه وتعالى قدره. ولهذا ارجو أن يكون هذا الجهد المتواضع فيه بعض من الفائدة، وأرجو ان أتدارك النقص والخطأ في طبعات لاحقة، فالهدف ابتغاء فضل الله ورعايته وتوجهة، نحو علم ينفع وجهد يفيد وعلى الله قصد السبيل.

المؤلفة

كارتينى

Bahasa Indonesia Untuk Perguruan Tinggi: Terampil Berbahasa Melalui Pembelajaran Berbasis Teks

Bahasa Indonesia Untuk Perguruan Tinggi: Terampil Berbahasa Melalui Pembelajaran Berbasis Teks

Keterampilan berbahasa merupakan sebuah keterampilan yang wajib dimiliki peserta didik. Melalui keterampilan berbahasa seseorang bisa mahir melakukan komunikasi yang positif, dan produktif. Keterampilan berbahasa telah diajarkan sejak seseorang duduk di bangku sekolah dasar hingga perguruan tinggi sehingga seyogyanya pebelajar sudah terampil berbahasa. Namun faktanya di perguruan tinggi, masih saja ditemukan mahasiswa yang tidak mampu menulis sesuai dengan ejaan yang tepat, dan tidak berani dalam menyampaikan pendapat. Hal ini tentu dipengaruhi oleh kurangnya pemahaman mahasiswa mengenai menulis dan berbicara. Beberapa faktor penyebabnya diindikasi dari ketidakmampuan mahasiswa menyimak materi dan kurangnya pengetahuan mahasiswa karena kurang membaca.

Keterampilan berbahasa terdiri dari keterampilan menyimak, membaca, berbicara dan menulis. Keempat keterampilan tersebut, memiliki keutamaan, dan kaitan satu sama lain yang harus dikuasai oleh seorang pebelajar. Keempat keterampilan tidak serta merta dikuasai tetapi perlu latihan yang intensif. Hal ini sesuai dengan pendapat Tarigan (1993:1) bahwa keterampilan hanya dapat diperoleh dan dikuasai dengan jalan praktik dan banyak latihan. Melatih keterampilan berbahasa berarti pula melatih keterampilan berpikir. Buku ini didesain untuk membuat mahasiswa terampil berbahasa melalui pembelajaran berbasis teks. Pada tahap awal mahasiswa diharapkan mampu menumbuhkan kembali kesadaran berbahasa Indonesia dengan memberikan materi Pengantar bahasa Indonesia. Lalu membangun konsep mahasiswa tentang dasar-dasar bahasa Indonesia. Dasar-dasar ini penting, sebagai pondasi untuk menulis teks akademik. Setelah membahas tentang dasar-dasar bahasa Indonesia, mahasiswa diharapkan mampu membuat teks akademik.

 

Manajemen Pendidikan Berbasis Madrasah

Manajemen Pendidikan Berbasis Madrasah

Penulis: Makmur, S.Pd.I., M.Pd.I. & Suparman, S.Pd.I., M.Pd.I.

Editor Isi: Hisbullah, S.Pd., M.Pd.

Editor Bahasa: Mirnawati, S.Pd., M.Pd.

ISBN:  978-602-5802-08-9

 

Cetakan Pertama, April  2018

Ukuran: 14 X 21 cm; Halaman: viii + 58

Perancang Sampul: Chandra Adi Wiguna

Tata Letak: Andi Hafizah Qurrota  Ayun

 

Pengantar

Pendidikan memegang peranan yang sa­ngat penting dalam proses peningkatan kuali­tas sumber daya manusia. Peningkatan kualitas pendidikan merupakan suatu proses yang terintegrasi dengan proses peningkatan kualitas sumber daya manusia itu sendiri. Menyadari pentingnya proses pening­katan kualitas sumber daya manusia, maka peme­rintah bersama kalangan swasta telah dan terus berupaya mewujudkan amanat tersebut melalui berbagai usaha pembangunan pendidikan yang lebih berkualitas, antara lain melalui perbaikan kuri­kulum dan sistem evaluasi, sarana pendidikan, pengem­bangan materi ajar, serta pelatihan bagi tenaga pendidik[1] dan tenaga kependidikan[2] lain­nya.

Output pendidikan di Indonesia masih tergolong rendah kualitasnya. Hal ini ditandai oleh sering terjadinya tawuran antar pelajar di berbagai kota ditambah lagi dengan sejumlah perilaku mereka yang menjurus kriminal, penyalahgunaan narkoba yang terus meningkat, dan pergaulan bebas di kalangan remaja. Ini merupakan bukti bahwa pendidikan di negeri ini tidak berhasil membentuk peserta didik yang memiliki kepribadian Islami. Apabila dunia pendidikan tidak segera diatasi secara cepat dan tepat, maka tidak mustahil sektor ini akan ditinggalkan oleh zaman. Dengan begitu, diperlukan adanya kesadaran untuk menampilkan lembaga pendidikan yang berkualitas dalam usaha memecahkan dan merespons berbagai tantangan baru yang timbul di setiap zaman.[3]

Demikian juga dalam komparasi dunia internasional, mutu pendidikan Indonesia berada pada posisi yang rendah. Hal ini menuntut segenap lembaga pendidikan yang ada di negeri ini untuk bangkit dan berjuang dalam usaha memperbaiki pendidikan agar menjadi lembaga yang berkualitas dan dapat dibanggakan oleh bangsa Indonesia.[4]

Kedudukan pendidikan di Indonesia merupakan hal yang penting dan mendasar, karena dengan melalui pendidikan maka usaha-usaha memperjuangkan kehidupan rakyat yang adil dan makmur sebagai cita-cita seluruh bangsa dapat diwujudkan secara memadai. Secara eksplisit hal tersebut tertuang dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar (UUD) 1945, yang menegaskan bahwa salah satu tujuan kemerdekaan Negara Republik Indonesia adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. Lebih tegas lagi, pentingnya pendidikan termaktub dalam pasal 31 ayat 1 dan 2 UUD 1945 yang berbunyi, “Tiap-tiap warga negara berhak mendapat pengajaran, dan Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pengajaran nasional, yang diatur dengan undang-undang”.

Merujuk pada Undang-Undang No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, penyelenggaraan pendidikan adalah salah satu urusan wajib yang menjadi wewenang pemerintah kabupaten/kota. Di sisi lain, Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional mene­gaskan bahwa pendidikan diselenggarakan secara demokratis dan berkeadilan serta tidak diskriminatif dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia, nilai keagamaan, nilai kultural, dan kemajemukan bangsa.[5]

Dua landasan normatif tersebut sebenarnya sudah cukup menjadi rambu-rambu bagi pelaksanaan desentralisasi pen­didikan. Akan tetapi, perlu juga adanya standarisasi dan pengen­dalian mutu secara nasional sebagai upaya membentuk kesatuan referensi dalam mencapai pendidikan yang berku­alitas. Standar pendidikan ini telah diperkuat dengan adanya PP No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan.[6]

Reformasi  bidang  politik  di  Indonesia  pada  penghujung  abad  ke  20  M  telah membawa  perubahan  besar  pada  kebija­kan  pengembangan  sektor  pendidikan,  yang secara  umum  bertumpu  pada  dua  paradigma  baru  yang  otonomisasi  dan  demokratisasi. Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang otonomi daerah telah meletakkan sektor pendidikan sebagai salah satu yang diotomisasikan bersama sektor-sektor pem­bangunan yang berbasis kedaerahan lainnya seperti kehutanan, pertanian, koperasi dan pariwisata. Otonomisasi  sektor  pendi­dikan  dilimpahkan  pada  madrasah,  agar  kepala madrasah dan guru memiliki tanggung jawab besar dalam peningkatan kualitas proses pembelajaran untuk meningkatkan kualitas hasil belajar. Baik dan buruknya kualitas hasil belajar siswa menjadi  tanggung  jawab  guru  dan  kepala madrasah,  karena  peme­rintah  daerah  hanya memfasilitasi berbagai aktivitas pendi­dikan, baik sarana-prasarana, ketenagaan, maupun berbagai program pembelajaran yang direncanakan sekolah.[7]

Melalui Manajemen Berbasis Madrasah[8] diyakini bahwa prestasi belajar siswa lebih mungkin meningkat jika manajemen pendidikan dipusatkan di sekolah ketimbang pada tingkat daerah. Kepala madrasah[9] cenderung lebih peka dan sangat mengetahui kebutuhan murid dan madrasahnya ketimbang para birokrat di tingkat pusat atau daerah.  MBM memberikan kesempatan pengendalian lebih besar bagi kepala madrasah, guru, murid, dan orang tua atas proses pendidikan di madrasah mereka.

Sedangkan  salah satu usaha pemerintah untuk mening­katkan mutu pendidikan adalah dengan diadakannya otonomi pendidikan, otonomi diberikan agar sekolah dapat leluasa mengelola sumber daya dengan mengalokasikannya sesuai dengan prioritas kebutuhan serta agar madrasah lebih tanggap terhadap kebutuhan lingkungan setempat.[10] Otonomi juga diartikan sebagai kewenangan atau kemandirian, yaitu keman­dirian dalam mengatur dan mengurus dirinya sendiri dan tidak bergantung dengan orang lain. Jadi otonomi sekolah adalah kewenangan sekolah untuk mengatur dan mengurus kepen­tingan warga sekolah menurut prakarsa sendiri, berdasarkan aspirasi warga sekolah sesuai dengan peraturan perundang-undangan pendidikan nasioanl yang berlaku.[11]

Dalam pemberian otonomi pendidikan pada suatu daerah ini dilakukan sebagai sarana peningkatan efisiensi pemerataan pendidikan, peran serta masyarakat, dan akuntabilitas. Secara esensial, landasan filosofis otonomi daerah adalah pemberdayaan dan kemandirian daerah menuju kematangan dan kualitas masyarakat yang dicita-citakan.

Di sisi lain, otonomi pendidikan ini menuntut pendekatan manajemen yang lebih kondusif di madrasah atau sekolah agar mengakomodasi kemajuan dan sistem yang ada di madrasah. Dalam kerangka inilah, Manajemen Berbasis Madrasah (MBM) tampil sebagai alternatif paradigma baru manajemen pendi­dikan yang ditawarkan.

[1]Tenaga pendidik adalah tenaga kependidikan yang berkualifikasi sebagai guru, dosen, konselor, pamong belajar, widyaiswara, tutor, instruktur, fasilitator, dan sebatas lain yang sesuai dengan kekhususannya, serta berpartisipasi dalam menyelenggarakan pendidikan.

[2]Tenaga kependidikan meliputi: pengelola satuan pendidikan, penilik, pamong belajar, pengawas, peneliti, pengembang, pustakawan, laboran, dan teknisi sumber belajar.

[3]Abuddin Nata, Manajemen Pendidikan: Mengatasi Kelemahan Pendidikan Islam di Indonesia, (Bogor : Kencana, 2003), h.159.

[4]Hari Suderadjat, Sebuah Pengantar: Pendidikan Berbasis Luas (BBE) yang Berorientasi pada Kecakapan Hidup (Life Skill) (Cet. ke-3; Bandung: CV. Cipta Cekas Grafika, 2003), h. i.

[5]Umiarso dan Imam Gojali, Manajemen Mutu Sekolah di Era Otonomi Pendidikan, (Cet. II; Jogjakarta : Ircisod, 2011), h. 68.

[6]Ibid, h. 68.

[7]Lihat Dede Rosyada, Paradigma Pendidikan Demokatis  (Jakarta: Kencana 2004), h. 37.

[8]Manajemen Berbasis Madrasah (MBM) sama maknanya dengan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS). Oleh karena itu, apabila dalam tesis ini terdapat kata MBM maka yang di maksud oleh penulis adalah MBS.

[9]Kata madrasah sama halnya dengan sekolah, maka dalam penulisan tesis ini di difokuskan memakai kata madrasah.

[10]Hasbullah, Otonomi Pendidikan “Kebijakan Otonomi Daerah dan Implikasinya terhadap Penyelanggaraan Pendidikan”, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2006), h. 82.

[11]Ibid., h.76.

Komitmen Organisasi Terhadap Kinerja Pegawai

Komitmen Organisasi Terhadap Kinerja Pegawai

Penulis: Dr. Mahadin Shaleh, M.Si.

Editor Isi: Nurdin Batjo, M.M.

Editor Bahasa: Firman, S.Pd., M.Pd.

ISBN:  978-602-5802-06-5

Cetakan Pertama, April  2018

Ukuran: 15,5 X 23 cm; Halaman: viii + 78

Perancang Sampul: Chandra Adi Wiguna

Tata Letak: Andi Hafizah Qurrota  Ayun

Sejarah terbentuknya sebuah organsisasi sesungguhnya telah seusia dengan peradaban manusia di buka bumi ini. Sejak hidup manusia pertama, telah menyatukan diri dengan orang lain untuk mencapai tujuan hidupnya. Tetapi pada faktanya tidak semua orang menyadari bahwa mereka sebenarnya telah berorganisasi. Pentingnya berorganisasi ini telah diungkapkan oleh sahabat nabi empat belas abad yang lalu bahwa kejahatan yang terorganisasi dapat mengalahkan kebaikan yang tidak terorganisasi. Tetapi kesadaran berorganisasi itu agak lambat perjalanannya dibandingkan kemajuan peradaban manusia. Karena organisasi barulah dirasa sangat penting dalam beberapa dasawarsa terakhir. Ciri utama sebuah organisasi adalah sekelompok orang yang berinteraksi dan bekerjasama yang berpegang pada komitmen atas etika, norma, peraturan serta kebijakan yang telah disepakati untuk ditaati bersama demi kelangsungan organisasi.

Terdapat dua hal utama yang  dikaji dalam buku ini, yaitu komitmen organisasi dan kinerja pegawai. Komitmen organisasi mengacu pada tanggung jawab pegawai kepada organisasi. Sedangkan kinerja pegawai mengacu pada prestasi kerja seorang pegawai dalam periode tertentu dibandingkan standar, target, sasaran, atau kriteria yang harus dicapai.